RATU KALINYAMAT : Gambar Ilustrasi Ratu Kalinyamat, Muslimah Tangguh dan Pemimpin yang Disegani (foto: Jernih.co)


IAINUonline – Berbicara tentang tanggal 21 April yang terbersit dalam fikiran kita pasti sosok R.A. Kartini, seorang pahlawan wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita atau kesetaraan gender

Kartini lahir di Jepara dan wafat di Rembang Jawa Tengah. Namun, jauh sebelum RA Kartini lahir dan hidup dengan pemikirannya, ada sosok wanita tangguh berasal dari Jepara Seorang pemimpin visioner tentang segala hal. Baik itu pendidikan, perekonomian, antikolonialisme bahkan menjadi panglima perang.

Ya,wanita tersebut adalah R.A Retno Kencono atau biasa disebut Ratu Kalinyamat. Terlahir di Jepara Jawa Tengah sebagai putri dari Sultan Trenggono Raja dari kesultanan Demak Bintoro yang ke III.

Keberadaan Ratu Kalinyamat dimuat dalam Babad Tanah Jawi dan Babad Demak (karya Atmodarminto). Pada awalnya R.A Retno Kencono menjadi Adipati Jepara atas amanah dari ayahandanya,ditahun 1521.

Setelah menikah dengan Pangeran Hadirin (putra  Sultan Mukhayat Syah dari Aceh) pada tahun 1536, dia menyerahkan kepemimpinan pemerintahan kepada suaminya dan R.A. Retno Kencono mendampingi sang suami dengan setia.

Namun konflik besar Kerajaan Demak menyebabkan terbunuhnya Pangeran Hadirin pada tahun 1549. Pangeran Hadirin dibunuh oleh utusan Arya Penangsang dalam perjalanan bersama istri sepulang menghadap Sunan Kudus.

Sebelum itu Sunan Prawoto-Raja Demak ke-4-juga dibunuh oleh suruhan Arya Penangsang. Kehilangan kangmas kandung dan suami membuat R.A Retno Kencono teramat sedih. Ssehingga dia kemudian menanggalkan atribut kerajaan dan berkontemplasi di Bukit Donoroso.

Namun disadarkan oleh tanggung jawab yang besar selaku pemimpin, kesedihan cepat ditinggalkan

Lalu bangkitlah R.A. Retno Kencono menjadi Ratu Kalinyamat menggantikan suaminya memimpin Jepara kembali pada tanggal 10 April 1549. Dengan Candra Sengkala Trus Karya Tataning Bumi.

Banyak prestasi yang ditorehkan semasa kehidupan Ratu Kalinyamat. Capaian-capaian yang membuktikan bahwa pada masa Kerajaan Islam Demak-jauh sebelum R.A. Kartini lahir-seorang muslimah amat dihargai dan dapat melahirkan karya-karya besar bagi bangsanya. Di antaranya adalah:

Pembangun ekonomi

Ketika kembali memerintah Jepara Ratu Kalinyamat mengutamakan konsolidasi pembangunan ekonomi. Meskipun daerahnya kurang subur, empat kota pelabuhan dijadikan gerbang perdagangan, yaitu Jepara, Juwana, Rembang, Lasem.

Dia membangun industri unggulan Jepara, yaitu industri galangan kapal. Bahan industri bisa didapat dalam negeri Jepara, industri ini mampu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga roda perekonomian mulai bergerak.

Seorang ratu pengembang industri kecil

Jepara terkenal pada masanya sebagai industri galangan kapal, itu jelas. Namun bila kemudian juga berkembang industri ukir yang terus maju pesat hingga kini, maka peran Ratu Kalinyamat sebagai perintisnya bersama suami tercinta tak boleh dilupakan.

Dialah yang meminta Patih Sungging Bada Duwung mengajarkan pada penduduk Jepara keterampilan seni ukir ini. Hingga aneka benda tak luput dari sentuhan seni yang anggun khas Jepara ini. Motif-motifnya pun menunjukkan perpaduan antara motif Jawa dan Tiongkok yang Islami.

Seorang ratu pemerhati pendidikan

Wafatnya Sunan Prawoto meninggalkan putra-putri yatim di antaranya ialah Pangeran Arya Pangiri dan Rr. Mas Semangkin. Mas Semangkin kelak menjadi pemimpin perang melawan Pati karena memberontak terhadap mataram dan sekaligus pendiri daerah Mayong tempat lahir R.A. Kartini

Rr. Prihatin dan membesarkan adik bungsunya yaitu Pangeran Timur Rangga Jumena yang kelak menjadi Bupati Madiun. Tidak sampai di situ pada tahun 1559 dia mendirikan Masjid Mantingan di dekat makam suaminya. Tempat ini nantinya dijadikan beliau pusat pendidikan-pesantren-anak-anak dan terpelihara hingga kini.

Keindahan dekorasi Masjid Mantingan juga menjadi bukti cita ras seni ukir kala itu. Dan masjid ini menjadi masjid tertua di Jawa setelah masjid Agung Demak.

Panglima perang yang tangguh

Musafir Portugis yang bernama Fernando Mendes Pinto tiba di Banten tahun 1544. Dia mencatat bahwa di Banten hadir seorang wanita terhormat utusan Demak bernama Nyai Pamboya yang dalam berbagai sumber disebut sebagai putri Sultan Trenggono.

Dalam misinya ini Nyai Pamboya membawa perintah Raja Demak kepada Raja Sunda agar dalam waktu satu setengah bulan bantuan militer sudah sampai di Jepara untuk menyerang Pasuruan. Kita mengetahui bahwa ekspedisi Pasuruan adalah ekspedisi terakhir Sultan Trenggono.

Dia adalah seorang yang punya patriotisme tinggi ini bisa dilihat ketika di bawah pimpinannya Jepara melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka berdasarkan ajakan Raja Johor, yang pada tahun 1550 berkirim surat kepadanya mengenai ancaman Portugis yang bercokol di Malaka.

Ratu Kalinyamat lalu memberangkatkan 40 kapal yang berisi 4.000-5.000 prajurit bersenjata. Serangan kedua kembali dilancarkan Ratu Kalinyamat karena Portugis nyata-nyata mengganggu jalur perdagangan di Selat Malaka. Dia berkoalisi dengan kerjaan Aceh Darussalam meski dua serangan tidak berhasil mengusir Portugis, namun membuat Jepara amat disegani.

Ratu Kalinyamat telah membuktikan pada dunia bahwa perdaban nusantara telah memiliki pengetahuan yang luas tentang kemaritiman dan disegani bangsa-bangsa lain. Semangat anti kolonialisme Ratu Kalinyamat sudah terbukti dengan dua kali penyerangan terhadap Portugis sehingga membuatnya dijuluki sebagai De Kange Dame (perempuan gagah berani).

Ratu Kalinyamat adalah seorang pemimpin yang benar-benar memikirkan generasi yang akan mewarisi Bumi Pertiwi ini. Bila dia hanya memikirkan kesenangan dan kesejahteraan Jepara saat masanya memimpin saja, untuk apa susah payah mengumpulkan berbagai sumber daya dan dana guna memberangkatkan armada tempur dalam skala yang cukup besar.

Dapat kita tangkap maksudnya, ialah menyerang musuh lebih dahulu sebelum dia bergerak setidaknya akan menggoreskan deterrence effect lebih dalam sehingga musuh akan berfikir ulang untuk bertindak ofensif.

Juga karena Ratu Kalinyamat memikirkan kedaulatan nusantara di masa-masa mendatang. Bahkan saat dia telah tiada. Seolah dia ingin mengatakan kepada Portugis: “Jangan pernah coba-coba…..”

Banyak yang tidak mengetahui tentang sepak terjang Ratu Kalinyamat dalam menghadapi musuh-musuhnya yang ingin menguasai nusantara Bisa jadi ini adalah satu pengkaburan sejarah nusantara yang sengaja disembunyikan oleh penjajah. Sebab, penjajahan terhadap bangsa kita yang begitu lama dan Ratu Kalinyamat adalah musuh besar sangat anti kolonialisme.

Ratu Kalinyamat sebagai contoh. Seorang muslimah yang cinta negeri, berprestasi, dan setia kepada suami. Sempat dikenal sebagai tokoh yang bercitra kurang baik dalam beberapa buku dan juga kesenian rakyat. Suatu hal yang tidak logis.

Hingga akhirnya Pemerintah Kabupaten Jepara melalui bagian Humas melakukan rebranding terhadap tokoh besar nusantara yang diakui dunia ini.(*)

 

Penulis : Faiful Mukshani (mahasiswa di IAINU Tuban)

Referensi: Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah Kesultanan Demak

 

Editor : Sri Wiyono

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *