(Studi Kasus : Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub Bulujowo)

Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub Bulujowo merupakan madrasah naungan Kemenag. Madrasah ini sudah berdiri sejak tahun 1965 yang berada di Jalan Desa No.4 Bulujowo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur. Dari perkembangan kualitas lembaga semakin tahun semakin meningkat, sehingga setiap tahun peserta didik yang ada semakin bertambah. Namun demikian, dalam menghadapi hal ini madrasah juga harus mewujudkan sarana dan prasarana yang memadai. Sehingga masyarakat juga dapat merasakan kelayakan anak didiknya dalam menuntut ilmu dengan puas, baik dalam hal sarana prasarana maupun keefektifan belajaran pembelajaran siswa.

Pendidikan madrasah bagi generasi muda merupakan tahapan penting dalam menanamkan nilai-nilai fundamental dalam kehidupan. Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah menjadi peletak dasar mengenai cara berpikir, bersikap, serta berprilaku manusia dalam menjalani kehidupan. Untuk itu meletakkan pendidikan dasar sebagai bagian dari salah satu sistem Pendidikan Nasional menegaskan komitmen bangsa Indonesia untuk menghasilkan generasi muda yang terdidik sejak dini.

Peran Madrasah Ibtidaiyah tidak hanya sekedar menyelenggarakan penanaman materi pelajaran tingkat dasar kepada siswa, namun juga mengemban misi tertentu untuk melakukan proses edukasi, proses sosialisasi, dan proses transformasi dalam rangka mengantarkan siswa siap mengikuti pendidikan pada jenjang berikutnya.

Data Pokok Pendidik, Tendik, dan Peserta didik 5 Tahun Terahir:

Jenis

Tahun

2017

2018 2019 2020

2021

Pendidik

18 18 18 18 18
Tendik 3 3 3 3

3

Peserta Didik 228 230 227 238

268

Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub berada di tempat yang strategis dan mempunyai daya saing yang cukup berat dengan lembaga – lembaga lainya. Dengan demikian lembaga ini harus mampu mencetak lulusan yang memiliki keunggulan berbasis global dan lokal. Dengan demikian Lembaga pendidikan MI Tanwirul  Qulub harus mampu menghadapi arus globalisasi dan digitalisasi. Salah satunya MI Tanwirul Qulub di masa sekarang ini telah menghadapi problematika dalam menghadapi AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) dan AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Madrasah).

Problematika Lembaga Pendidikan

Problematika lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub berupa pembiayaan Sarana dan Prasarana dengan rincian problematika sebagai berikut:

Pertama: Guru atau pendamping, yaitu untuk membuat terlaksananya AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) dengan baik dan benar, sehingga nilai AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) bisa di gunakan sebagai rujukan terlaksananya  AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Madrasah).

Kedua: Pembelajaran/Pelaksanaan, yaitu mengkondisikan semua peserta didik yang mengikuti AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) bisa melaksanakan dengan lancar tanpa ada suatu kendala apapun.

Ketiga: Sarana, yaitu lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub masih membutuhkan tambahan Ruang untuk dijadikan sebagai tempat khusus guna terlaksananya AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) dan AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Madrasah).

Keempat: Prasarana, yaitu Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub masih menggunakan alat peraga yang berupa komputer dengan cara meminjam kepada pihak atau lembaga yang mempunyai komputer layak pakai untuk bisa menjalankan AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) dan AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Madrasah). Selain komputer ada lagi yaitu berupa Buku Paket AKM yang didapatkan dengan cara membeli dari kankemenag.

Kelima: Wali Siswa, berdasarkan fakta yang ada tingkat ekonomi orang tua siswa sebagian besar pada taraf menengah ke bawah, sehingga belum bisa meningkatkan pembiayaan siswa di Madrasah.

Keenam: Pemerintah, kecilnya sumbangan dari pemerintah untuk Madrasah Ibtidaiyah sehingga sarana dan prasarana masih belum bisa terpenuhi sepenuhnya.

Untuk menindak lanjuti problematika Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub dalam menghadapi AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) dan AKSI (Assesmen Komptensi Siswa Madrasah), Madrasah perlu adanya inovasi yang bisa diterima oleh peserta didik, pendidik, tendik, dan wali siswa serta masyarakat, dan tentunya pemegang kebijakan pendidikan. Supaya AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) dan AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Madrasah) mampu berjalan secara maksimal.

Untuk itu dari AKSI pihak Madrasah dapat memetakkan masalah, kekurangan dan kelemahan Madrasah, termasuk dapat mengukur literasi membaca, numerik hingga sains, terhadap siswa. Sehingga kesiapan pelaksaan AKM dan AKSI bukan hanya terletak pada sarana dan prasarana saja, juga SDM baik pendidik, dan kemampuan siswa.

Lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Qulub harus terlatih untuk menjalankan AKSI (Assesmen Kompetensi Siswa Madrasah), dan mencari solusi untuk menangani problematika yang dihadapi pada saat ini dan yang akan datang.

Penulis : Siti Mufarrochah PAI Aksel-G

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *