Sumber gambar : https://suaramahasiswa.info/alternatif/artikel/degradasi-moral-anak-bangsa/


Pendidikan adalah tangga untuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan memiliki peranan penting untuk negeri ini. Apabila ketika dalam masyarakat itu  memiliki pendidikan yang baik tentu tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Karena sudah dari zaman nenek moyang kita dulu persepsi masyarakat hanya dilihat dari cover tanpa mempertimbangkan isi-nya.

Ya memang ada, orang yang tidak memandang cover saja melainkan melihat isi-nya, tapi itu kiranya sangat minim sekali. Sering kita mendengar pepatah jawa “Ajine Rogo Songko Busono”, yang mana dalam pepatah itu mengandung sebuah makna “wibawanya seseorang dapat dilihat dari pakaiannya”. Dari sinilah banyak orang yang salah persepsi bahwasannya orang pintar itu yang pakainnya rapi dan berdasi, padahal belum tentu juga.

Apalagi di era milenial ini, banyak seorang pendidik yang sudah degradasi moral, jadi bukan hanya lagi peserta didik yang krisis moral seorang pendidik-nya pun sudah banyak yang krisis moral. Terus kalau pendidik-nya sudah krisis moral, bagaimana dengan tujuan pendidikan yang katanya mencetak generasi yang insan kamil dan berakhlak mulia?

Di era yang mana orang lebih mementingkan uang daripada akhlak ini, para guru kehilangan tujuan dalam mengajar dan mendidik muridnya. Akan sangat fatal resikonya bagi pendidikan negeri ini kedepannya. Maka dari itu, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam hadits-nya berpesan :

كُوْنـُـوْا رَبَّانِيِّـْينَ حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ عُلَمَاءَ وَيُقَالُ اَلرَّبَّانِيُّ الَّذِى يُــرَبِــّى النَّاسَ بِصِغَارِ اْلعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

“Jadilah pendidik yang penyantun, ahli fiqh dan ulama’. Disebut pendidik apabila seseorang mendidik manusia dengan memberikan ilmu sedikit-sedikit  yang lama-lama menjadi banyak.” (HR. Bukhori).

Di era milenial ini banyak pendidik yang mengaku profesional dengan hanya di buktikan selembar kertas ijazah. Tapi dalam mengajar, materi yang disampaikan tak dapat ditangkap oleh muridnya, bahkan hanya masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.

Karena pendidik zaman sekarang itu lebih berambisi dibandingkan paham atau tidaknya murid dalam peyampaian materi. Intiya pendidik zaman sekarang tugasnya mengajar, menyampaikan materi yang sudah dirancang dalam RPP sudah terpenuhi targetnya, ya sudah selesai. Paham atau tidaknya murid, pendidik acuh tak acuh.

Apa mungkin itu tidak pernah terpikirkan oleh seorang pendidik? Rasanya tidak mungkin seorang pendidik tidak  pernah memikirkan itu.

Tantangan pendidikan zaman sekarang amat berat, di era Revolusi Industri 4.0 saja banyak membawa perubahan, entah itu perubahan positif atau negatif. Tapi lebih dominan pada perubahan-perubahan negatif. Apalagi kita akan menginjak pada era Society 5.0 yang mana masyarakat dihadapkan oleh kemajuan-kemajuan digital, gadget, dll.

Yang menjadi pertanyaan saya bukan masalah sistem pendidikannya melainkan pendidik dan peserta didiknya, akankah pendidik dan peserta didik mampu menghadapi era Society 5.0?.

Sedangkan di era 4.0 Revolusi Industri saja, banyak pendidik dan peserta didik yang kehilangan moral yang mana itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Banyak kita jumpai video tiktok seorang oknum guru berjoget ria tanpa punya rasa malu. Apalagi dengan peserta didiknya malah lebih banyak lagi video-video seperti itu. Tidak hanya itu masih banyak lagi perubahan-perubahan negatif lainnya.

Maka dari rentetan permasalahan yang ada, Pendidikan Agama Islam sangat berperan penting sebagai benteng atau pemfilter hal-hal negatif yang tidak di inginkan. Dalam pendidikan agama kita akan mengenal batas-batas yang mana itu pantas dilakukan atau tidak. Dalam ayat suci Al-qur’an kita pasti pernah baca dan menemukan ayat yang berbunyi :

أفلا تعقلون، أفلا تعقلون

“Apakah kamu tidak berakal, Apakah kamu tidak berakal.”

Kita diberi akal/otak oleh Allah SWT guna untuk berpikir bukan pajangan semata. Maka gunakanlah akal itu sebaik-baik mungkin, jangan disalah gunakan.

Seorang guru harus menjadi teladan yang baik bagi para siswa dalam mewujudkan perilaku siswa yang berkarakter. Oleh sebab itu bukan hanya siswa saja yang dituntut untuk memiliki etika dan moral yang baik seorang guru sekali pun dituntut untuk memiliki etika dan moral yang baik sehingga siswa dapat mengambil contoh dari seorang Guru tersebut. Apapun yang dilakukan oleh seorang guru akan terekam di memori siswa.

Guru yang hebat, yang memang betul-betul bertanggung jawab dan menjaga amanah yang di embannya. Semua gerak gerik, tutur kata dalam cara mengajarnya adalah teladan bagi muridnya. Maka nanti akan melahirkan generasi-generasi yang berkarakter, bermoral dan berakhlak mulia. Walaupun dihadapkan oleh permasalahan-permasalahan kemajuan zaman tidak akan goyah karena sudah terbekali ilmu-ilmu yang sudah di sampaikan gurunya, lebih-lebih itu ilmu agama.

 

Penulis : Choiril Anwar PAI Aksel G

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *