Lokasi : Pesarean Syekh Ahmad Abu Fadhol Senori Tuban


Orang jawa nenek moyang kita dahulu, sebelum menerima ilmu mereka mendahulukan adab/tatakrama. Karena adab adalah pondasi awal bagi orang yang menuntut ilmu. Ibarat bangunan rumah tanpa ada pondasi, akankah rumah bisa berdiri kokoh?. Begitu juga dengan ilmu, ilmu tanpa disertai adab/tatakrama bagaikan rumah yang tak berpondasi. Dan itu akan sangat berbahaya, ketika generasi remaja kelak menjadi seorang guru. Guru yang berambisi tentang pengetahuannya tapi mengesampingkan adab/tatakrama.

Sekarang itu banyak orang pintar, mayoritas masyarakat di Indonesia penduduknya berpendidikan semua. Tapi anehnya, malah orang-orang yang berpendidikan itu minim attitude. Ada apa dengan pendidikan di negara kita?. Bukankah menteri pendidikan sudah memberikan yang terbaik bagi pendidikan negeri kita?.

Dalam uapaya mengembangkan pendidikan di Indonesia menteri pendidikan kita Nadiem Anwar Makarim memiliki 5 kebijakan. Hal ini diungkapkan Kepala BKLM Ade Erlangga dalam acara Fasilitas Hubungan Kehumasan Kemendikbud, Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) di Kuta, Bali, 14 November 2019.

Lima kebijakan tersebut kata Erlangga adalah pertama, prioritaskan pendidikan karakter dan pengamalan pancasila. Kedua, potong semua regulasi yang menghambat trobosan dan peningkatan investasi. Ketiga, kebijakan pemerintah harus kondusif untuk menggerakkan sektor swasta agar meningkatkan investasi di sektor pendidikan. Keempat, semua kegiatan pemerintah berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dengan mengutamakan pendekatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang baru dan inovatif. Kelima, memperkuat teknologi sebagai alat pemerataan baik daerah terpencil maupun kota besar untuk mendapatkan kesempatan dan dukungan yang sama untuk pembelajaran. (TEMPO.CO, Jakarta)

Kebijakan-kebijakan yang sudah diberikan pemerintah untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia akan berjalan dengan baik, apabila kebijakan tersebut memang betul-betul diterapkan. Karena terkadang kebijakan-kebijakan tersebut hanya sebagai wacana saja, bahkan dibaca pun enggak. Lantas bagaiamana mau diterapkan?. Wong terkadang pemerintah memberi kebijakan itu juga hanya formalitas belaka, loh kalau begitu bagaimana pendidikan bisa berkembang dan maju?.

Pendidikan itu hal yang sakral, kalau orang jawa bilang “ilmu iku ibarate gaman, luweh sering di ungkal luweh landep gamane” dalam pitutur ini mengandung makna yang dalam, menunjukkan bahwa orang-orang jawa dulu pun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Tapi, disamping itu juga orang-orang jawa tidak mengesampingkan adab. Bahkan orang yang tak berilmu pun tetap menjaga adab-nya, apalagi yang berilmu. Mbah Sayyid bin Abdullah Adzomat Khan pernah berkata “kenapa orang jawa lebih mudah menerima pembelajaran? Itu karena orang jawa mendahulukan adab/akhlak sebelum di ajar”.

Karena pada dasarnya semua ilmu pengetahuan itu saling berhubungan, apalagi adab dan ilmu. Menurut saya pribadi adab dan ilmu adalah komponen yang tidak dapat dipisahkan. Karena seharusnya orang yang berilmu itu juga beradab. Tapi kini menjadi problem, orang berilmu belum tentu beradab. Contohnya banyak orang berilmu, berpendidikan, tapi ketika memiliki jabatan tinggi suka semena-mena, diberi amanah jadi anggota DPR malah korupsi. Apa mungkin orang-orang seperti itu bisa dikatakan berilmu?

Di dalam kitab Tanqih al-Qoul al-Hatsits bi Syarh Lubab al-hadits karya Imam Nawawi halaman 8,  terdapat hadis tentang keutamaan orang yang berilmu, yaitu:

وقال صلى الله عليه وسلم فَقِيْهٌ وَاحِدٌ مُتَوَارِعٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ جَاهِلٍ وَارِعٍ

Nabi Saw. Bersabda: Seorang faqih (alim dalam ilmu agama), wira’i (menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan) adalah lebih berat (sulit) bagi syaitan dibanding seribu ahli ibadah yang bersungguh-sungguh, (tapi) bodoh, (meskipun) wira’i.

Sudah jelas dalam sabda Nabi Muhammad SAW, bahwasannya keutamaan orang berilmu itu derajatnya tinggi di sisi Allah SWT. Tapi mengapa masih ada orang berilmu yang  suka makan barang haram?, tanyakan pada diri kalian masing-masing. Sudah pasti, niat dan tujuannya mencari ilmu itu ada yang salah. Maka marilah kita refresh kembali niat dan tujuan kita menuntut ilmu demi menghilangkan kebodohan, mencari keridhaan Allah SWT dan mengamalkannya dengan baik.

Remaja adalah usia paling labil, pada usia remaja ini biasanya mereka sering menggunakan emosi daripada akal. Makanya banyak kasus kenakalan remaja tawuran, bolos jam pelajaran, dll. Itu dikarenakan mereka dalam mengatasi masalah-masalah yang ada sering menggunakan emosionalnya tanpa berpikir panjang resiko yang terjadi nantinya.

Di dalam buku Maha Guru Syekh Abdul Qadir Jailani karya Samsul Ma’arif halaman 152, Syekh berpesan kepada anak muda :

“Wahai anak muda! Janganlah engkau bergaul dengan sesama manusia dalam keadaan buta, bodoh, lalai dan tidur (terlena)! Pergaulilah mereka dengan kecerdasan yang tercerahkan oleh ilmu dan kesadaran. Jika engkau melihat sesuatu yang terpuji pada mereka, maka ikutilah! Namun, jika engkau melihat sesuatu yang buruk bagimu, maka jahuilah dan cegah mereka dari hal tersebut”.

Dari nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani tersebut, menjadi pelajaran sekaligus pengingat bagi kita bahwa pergaulan bebas juga akan sangat mempengaruhi sikap, pola pikir dan karakter anak muda. Maka sejak dini mungkin anak harus betul-betul dididik dengan baik dan benar. Tanamkan pada hati mereka pendidikan agama, akhlak dan ilmu pengetahuan lainnya. Karena itu adalah pondasi awal anak, untuk bekal nanti melangkah ke jenjang selanjutnya. Disini orang tua juga berperan penting dalam menentukan sikap, karakter dan pola pikir anak untuk bekal nantinya.

 

Penulis : Choiril Anwar

Editor : Kumaidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *